Selasa, 20 Maret 2012

MEMOAR AKHIR TAHUN




            Kamis, 5 Desember 2019.
            Siang itu, matahari tanpa ampun memuntahkan panasnya kepada mahluk-mahluk di tanah ini. Orang-orang yang ada disini – baik pribumi maupun pendatang pun mengeluh kepanasan. Tetapi mereka punya cara tersendiri untuk mengatasi semakin panasnya suhu bumi karena global warming. Sekarang banyak orang yang memakai lotion pelindung anti sinar UV untuk melindungi kulit dari ancaman kanker. Ada juga disini yang memakai topi, payung, ataupun jaket ber-AC yang mulai menjamur di pasaran pada akhir tahun 2019 ini.
            Seorang lelaki tampan dan gagah dengan postur tinggi besar berdiri beberapa meter di depan pintu gerbang. Dia mengenakan jaket ber-AC buatan Jepang yang memiliki sepasang baterai di sisi jaket yang mampu menarik udara dari luar dan mengisinya ke dalam sehingga akan terasa sejuk ketika memakainya. Dia juga memakai peci putih, kacamata hitam, celana jeans biru, dan tas ransel di punggungnya. Dia adalah Muhammad Bambang Febrianto.
            Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, akhirnya Bambang kembali menginjakkan kakinya di tanah ini. Dia masih saja berdiri menghadap ke pintu gerbang. Dia melepas kacamata hitamnya, lalu pandangannya mengedar ke sebelah kanan, lalu ke sebelah kiri. Dilihatnya tempat ini semakin ramai saja. Setiap hari tempat ini memang dikunjungi oleh lebih dari dua ribu peziarah yang datang dari berbagai daerah, dari berbagai suku dan dari berbagai macam latar belakang. “Banyak yang berubah selama aku pergi,” pikir Bambang.
            Bambang melangkahkan kakinya. Dia berjalan melewati pintu gerbang, memasuki area pondok pesantren bersama rombongan-rombongan peziarah lainnya. Dilihatnya gedung-gedung megah nan indah yang berdiri kokoh disekelilingnya. “Benar-benar sudah berubah,” gumamnya dalam hati.
            Setelah sampai di tempat yang menjadi tujuan utama, Bambang mengambil tempat yang kosong diantara para peziarah lainnya. Dia duduk bersila dan mulai melantunkan doa-doa yang dia tujukan kepada para kekasih Allah yang jasadnya kini terkubur di dalam tanah di hadapannya. Di hadapan Bambang kini terhampar makam orang-orang yang hebat dan luar biasa. Kyai Hasyim Asy’ari dan Kyai Wahid Hasyim adalah dua orang pahlawan yang sangat  dikaguminya. Apalagi kepada seorang Gus Dur. Seorang tokoh yang sangat diidolakannya dari dulu. Sejak pertama mondok, dia sangat ingin bertemu dan mencium tangan orang yang diidolakannya itu.
            Mata Bambang kini berkaca-kaca. Air mata yang tak terbendung lagi perlahan keluar, mengalir membasahi pipi putih bersih Bambang yang tak pernah berjerawat. Terlintas di benaknya kenangan-kenangan indah ketika dulu selama tiga tahun dia menjadi santri di Pondok Pesantren Tebuireng ini. Dia ingat kepada teman-temannya yang dulu selalu menemaninya dalam suka dan duka. Dia rindu kepada dua orang sahabat terdekatnya dulu, Hasan dan Imam. Mereka berdua adalah sahabat terbaik Bambang ketika nyantri dulu. Apalagi Hasan yang selama ini sudah Bambang anggap sebagai saudara kandung sendiri. Bambang dan Hasan selalu saling memotivasi, saling menasihati dan saling memberi. Baru tiga hari yang lalu Bambang menghubungi hasan menggunakan Video Call. Hasan memberi kabar bahwa dia dan Imam sekarang sudah sukses menjadi pembina dan pengurus Pondok ini. Bambang senang mendengarnya. Sementara Imam entah kenapa tidak dapat dihubungi oleh Bambang. Bambang sudah tak sabar ingin bertemu dengan kedua sahabatnya itu. Dia mempunyai segudang cerita yang siap dia bagi kepada mereka berdua. Tapi entahlah, sejak sehari yang lalu Hasan pun tak bisa dihubunginya.
***************
            Kamis, 24 Desember 2009.
            Bambang baru lima bulan menjadi santri di Pondok Pesantren Tebuireng ini. Tapi dia sudah merasa sangat betah mondok disini. Dia tahu bahwa Pesantren Tebuireng sudah terkenal sebagai penghasil orang-orang yang sukses. Banyak alumni-alumninya yang menjadi orang besar. Pesantren ini juga adalah satu-satunya Pesantren yang di dalamnya terdapat dua makam pahlawan nasional yakni KH. Hasyim Asy’ari dan KH. A. Wahid Hasyim. Bambang juga tahu bahwa Pesantren ini sangat sering dikunjungi oleh orang-orang ternama. Imam pernah bercerita kepada Bambang bahwa dia pernah mencium tangan Pak Jusuf Kalla. Begitu juga Hasan yang mengaku pernah berfoto dengan Bapak Menteri Agama, dan banyak lagi cerita-cerita yang Bambang dengar dari kakak-kakak seniornya. Bambang senang mendengarnya. Apalagi jika ada yang bercerita tentang Gus Dur, cucu dari Mbah Hasyim yang sangat  diidolakannya. Pastilah dia sangat senang mendengarnya. Beliau adalah satu-satunya tokoh yang sangat Bambang ingin temui sekarang. Dan dengan Bambang mondok di Pondok Pesantren ini, kesempatan untuk itu kian terbuka lebar.
            Angin malam berhembus kencang. Membuat daun-daun pohon di depan Wisma Saifuddin Zuhri bergoyang-goyang. Langit malam terlihat indah dengan bintang-bintang yang berkilauan. Saat ini jam di dinding kamar SZ 305 menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Seluruh penghuni kamar ini sudah tenggelam di alam mimpinya masing-masing. Kecuali tiga sekawan yang sama-sama mempunyai hobi bercerita yakni Bambang, Hasan dan Imam. Mereka bertiga masih saja asyik ngerumpi ngalor-ngidul. Berbagai macam hal mereka bicarakan. Adakalanya mereka tertawa bersama, adakalanya mereka memasang wajah serius dan adakalanya pula mereka saling terdiam mencari bahan omongan lain.
            “Eh, Bang, Zak ke makam yuk!” ajak Hasan kepada Bambang dan Imam.
            “Wah malas aku kalau sekarang, San,” kata Imam.
            “Iya, San. Mataku juga sudah sangat berat. Tak tahan lagi aku menahan kantuk,” Bambang pun menolak ajakan Hasan seperti halnya Imam.
            “Huh kalian ini. Tidakkah kalian ingat kata ustadz-ustadz disini, jika kita ingin sukses menuntut ilmu di pondok pesantren ini, kita harus rajin-rajin berjama’ah, taat aturan pondok dan juga sering berziarah ke maqbarah, mendoakan para ulama’ kita yang sudah wafat?”
            “Ah, kau ini, San. Sudah tahulah aku. Sudah berkali-kali aku mendengar nasehat itu dari ustadzku. Tapi sekarang aku sedang malas, San. Kau sendiri saja lah!” kata Imam.
            “Iya, San. Hooammh,…,” Bambang lalu membaringkan tubuhnya di kasur.
            “Huh, ya sudahlah,” Hasan bangkit. Dia memakai sarung hitam, baju koko dan peci putih, lalu ia keluar menuju maqbarah. Sementara Bambang dan Imam mulai memejamkan kedua matanya di kasur masing-masing. Kamar ini berubah menjadi hening. Hanya suara detak jarum jam dinding yang terdengar.
            Pagi harinya.
            “Haha… menyesalah kau, Bang. Tahu gak semalam aku bertemu dengan siapa?” kata Hasan sambil menepuk bahu Bambang.
            “Ketemu siapa memang? Paling-paling kau ketemu dengan peziarah perempuan yang cantik. Iya kan?” celetuk Bambang.
            “Astagfirullah... Bukan lah, Bang. Aku bertemu idolaku, Bang. Idolamu juga.”
            “Siapa?”
            “Gus Dur, Bang. Aku bertemu Gus Dur!”
            Bambang terperanjat kaget, “Hah? Yang bener aja lu?
            “Iya, Bang. Billahi, aku tidak berbohong.”
            “Tapi… bukankah beliau sedang dirawat di Rumah Sakit?”
            “Iya aku tahu, Bang. Beliau semalam berziarah ke makam dengan menggunakan kursi roda bersama dengan serombongan orang yang mengawalnya. Di tangannya kulihat juga masih ada perban bekas infusan. Aku lihat langsung, Bang! Aku lihat!”
            Bambang terdiam. Lalu... plokk. Dia menepuk jidatnya sendiri. Garis wajahnya jelas menunjukkan rasa penyesalan dan kekecewaan. Padahal dia sangat ingin bertemu dengan idolanya itu, tetapi begitu kesempatan itu datang, dia menyia-nyiakannya. “Ah, alangkah beruntungnya Si Hasan itu. Kenapa semalam aku menolak ajakannya?” pikir bambang.
            “Tapi tenang saja, kawan. Beliau bilang akan kesini lagi seminggu yang akan datang,” Hasan sedikit menghibur Bambang. Seketika wajah Bambang pun berubah menjadi senang.
            “Benarkah itu, San?”
            “Iya. Beliau sendiri yang bilang.”
***************
            Selama seminggu Bambang hanya menunggu dan menunggu. Dia berpikiran alangkah bahagianya dia jika bisa bertemu dan mencium tangan Gus Dur secara langsung. Setiap hari dia terus memikirkan Gus Dur. Dia sangat mengagumi pemikiran-pemikiran Gus Dur. Dia senang membaca artikel-artikel dan buku-buku tulisan Gus Dur. Dia senang melihat Gus Dur tampil di layar kaca. Apalagi kini kesempatan untuk bertemu langsung sangat terbuka. “Takkan kusia-siakan lagi kesempatan ini,” pikir Bambang.
            Satu minggu telah berlalu. Hari ini hari Rabu, 30 Desember 2009. Setelah selesai menunaikan shalat Isya’ berjama’ah ditambah dengan shalat ba’diyah di mesjid, sebagian besar santri kembali ke kamar masing-masing. Begitu juga Bambang. Setelah sampai di kamarnya, dia langsung merebahkan badan di kasurnya, melemaskan otot-otot yang sejak sebelum subuh tadi terus-menerus dia gunakan untuk beraktivitas. Ya, memang harus begitu jika ingin menjadi santri yang baik. Setiap santri harus mengikuti setiap kegiatan yang diwajibkan oleh pengurus pondok. Dari mulai melaksanakan shalat tahajjud, mengikuti pengajian Al-Qur’an ba’da subuh, berangkat ke sekolah masing-masing, mengikuti pengajian diniyah dan kegiatan-kegiatan lainnya. Jika ada santri yang tidak mau diatur dan tidak mau mengikuti kegiatan di pondok pesantren ini, maka bersiaplah dia untuk disidang dan dihukum oleh keamanan.
            Bambang bangkit lalu duduk sejenak. Diraihnya sebuah buku yang ditaruh di rak diantara buku-buku dan kitab-kitab yang lainnya. Belum sempat dia membaca habis satu halaman buku, Hasan tiba-tiba masuk ke dalam kamar dengan tergopoh-gopoh lalu berteriak kepada teman-teman sekamarnya, “Rek, ada kabar duka!”
            “Apa, San?”
            “Innalillahi... Gus Dur… Gus Dur meninggal!”
            Semua anak-anak yang ada di kamar itu seketika terperanjat kaget.
            “Kau… yang benar saja, San!” minat membaca Bambang langsung hilang. Dia tutup buku ditangannya lalu dia letakkan di atas kasur.
            “Iya lah. Buat apa juga aku berbohong. Aku dengar sendiri dari Ustadz Arif, Bang,”
            Serasa ada petir menyambar yang membuat hati seorang Bambang hancur berantakan. Dadanya sesak, serasa ditindih seekor anak gajah. Badannya lemas seketika. Kedua tangannya memegang kepalanya yang sudah tertunduk lesu. Tidak hanya Bambang, teman-temannya yang lain pun sama. Bagi mereka kehilangan seorang Gus Dur adalah sebuah musibah besar. Terlihat jelas ekspresi wajah mereka menunjukkan rasa kaget, tak percaya, dan tentunya rasa sedih yang mendalam. Terutama Bambang. Seminggu memang telah berlalu, dan apa yang dikatakan Gus Dur seminggu yang lalu memang benar adanya. Beliau memang akan kembali lagi kesini, tetapi dengan keadaan yang sama sekali tidak Bambang harapkan. Bambang masih berharap kalau ini semua hanya bohong. Ini tidak nyata. Tetapi tak lama kemudian suara pengumuman dari pengurus yang terdengar ke seluruh penjuru pondok membuat sisa-sisa harapannya sirna.
            “Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun…Telah berpulang ke rahmatullah guru kita semua, KH. Abdurrahman Wahid…,” setelah mendengar kalimat itu, jadilah kini Bambang sebagai orang yang paling menyesal sedunia. Sirna sudah impian dan harapannya untuk bertemu Gus Dur secara langsung. Ternyata kesempatan itu hanya datang satu kali. Setelah ini kesempatan itu tak kan pernah datang lagi.
            Malam itu, malam penuh duka. Di Tebuireng ini sudah jelas semua orang berduka. Berita wafatnya Gus Dur sang Guru Bangsa dengan cepat menyebar ke seluruh pelosok Nusantara. Rakyat Indonesia pasti turut berduka karena kehilangan guru bangsanya. Pondok Pesantren Tebuireng kini disorot oleh berbagai media. Satu persatu mobil dari stasiun TV lokal maupun nasional berdatangan. Beberapa reporter dan kameramen turun dari masing-masing mobil. Mereka berlomba-lomba untuk meliput berita. Di dalam mesjid, seorang santri terus menerus melantunkan surat Al-Ikhlas dengan pengeras suara. Imam juga ada di dalam masjid bersama beberapa santri yang lainnya, mereka bergantian membaca surat Al-Ikhlas. Sementara di area pemakaman, segerombolan orang berkumpul. Mereka adalah pengurus pondok, santri, wartawan, juga masyarakat sekitar yang sengaja masuk ke dalam pondok. Bambang dan Hasan ada di antara mereka. Mereka berdua ikut membantu proses penggalian makam yang nantinya akan menjadi tempat peristirahatan Gus Dur yang terakhir.
            Setelah lubang makam selesai dibuat, Bambang berdiri terdiam sambil menatap kosong ke arah lubang tersebut. Dalam hati dia berkata, “Oh mimpikah aku? Nanti jasad Gus Dur akan ditempatkan disini. Di lubang yang sempit nan gelap dengan jasad yang hanya dibalut kain kafan. Lalu setelah jasad Gus Dur dibaringkan, lubang ini akan ditutup lagi . Tinggallah beliau sendirian di dalamnya. Dan akhirnya pupus sudah harapanku untuk bertemu dengannya. Aku takkan pernah lagi memiliki kesempatan itu. Tak kan pernah lagi!” Bambang mulai mengeluarkan air mata. Dia menangis, “Oh, kenapa dengan diriku ini? Kenapa ini semua terjadi? Kenapa waktu itu aku menolah ajakan Hasan? Kenapa kau ini Bambang?” Air mata Bambang mengalir semakin deras. Hasan menerobos kerumunan orang untuk mendekati Bambang.
            “Bang, ayo kita tidur! Badanku sudah pegal semua. Ini sudah jam satu lebih,” ajak Hasan.
            Bambang menghapus air matanya, “Ayolah,” Bambang akhirnya mengikuti ajakan Hasan.
            Bambang dan Hasan. Kedua sahabat ini berbaring di serambi mesjid dengan hanya beralaskan sajadah. Disamping mereka berdua ada Imam yang sudah dari tadi tertidur pulas disitu. Bambang dan Hasan terdiam menatap langit-langit. Surat Al-Ikhlas masih terdengar dilantunkan terus menerus oleh seorang santri di dalam masjid. Kedua sahabat ini termenung. Tenggelam dalam alam pikirannya masing-masing. Hembusan angin malam yang semakin kencang tak membuat mereka kedinginan. Sebagai santri mereka memang sudah terbiasa dengan hal seperti itu.
            “San, kau sudah tidur?” tanya Bambang.
            “Belum,” jawab Hasan sambil membuka kedua matanya kembali.
            “Kau tahu, San? Aku sangat menyesal tidak ikut denganmu waktu itu. Ahh, andaikan waktu bisa diputar kembali.”
            “Sudahlah, Bang. Tak ada gunanya kau terus menyesal. Jadikan ini semua pelajaran, Bang!”
            “Iya juga sih, San. Aku bertekad kuat sekarang,  San. Dua setengah tahun lagi aku mondok disini, aku akan berusaha keras. Aku tak akan membuang waktu dan kesempatan yang kupunya. Akan kugunakan waktuku ini untuk belajar, belajar dan belajar. Aku bercita-cita ingin menjadi orang besar seperi Gus Dur, San.”
            “Baguslah kalau begitu, Bang. Kau masih kelas satu. Masih baru. Masih banyak waktumu disini. Jangan kau sia-siakan waktumu itu. Kau beda denganku. Aku sudah kelas dua. Aku juga menyesal sekarang. Orangtuaku ingin setelah lulus nanti aku melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar, Kairo. Kau tahu kan? Untuk bisa kesana aku harus menghafal minimal lima juz Al-Qur’an. Tetapi sekarang juz Amma saja aku banyak yang lupa.”
            “Ya, kau juga jangan menyerah lah, San. Tidak ada kata terlambat. Masih ada satu tahun yang harus kau perjuangkan.”
            Hasan terdiam sejenak lalu berkata, “Iya, Bang kau benar juga.”
            “San, kita ini sahabat. Kau lah yang mengenalkanku kepada pondok ini ketika aku masih satu dua hari disini. Aku ini manusia, kau juga. Aku tak selamanya benar, kau pun juga. Aku ingin selama kita disini kita saling mengingatkan. Ketika aku salah kaulah yang membenarkanku, dan ketika kau salah, aku akan berusaha mengingatkan dan membenarkanmu. Gimana, San?”
            “Ya tentu saja. Aku setuju denganmu,” keduanya bersalaman. Lalu mereka kembali terdiam. Surat Al-Ikhlas masih terdengar merdu dilantunkan oleh seorang santri. Bambang dan Hasan memejamkan kedua matanya. Dua orang sahabat itu pun tertidur dengan lelapnya.
***************
            Kamis, 05 Desember 2019.
Bambang akhirnya selesai membaca doa setelah sebelumnya membaca surat Yasin dan tahlil. Dia tidak menyadari bahwa di samping kanannya sudah ada seorang lelaki yang sedari tadi duduk bersila sambil memerhatikannya. Lelaki itu mengenakan kemeja batik warna putih dan hitam, celana hitam dan tas jinjing warna hitam yang dia letakkan disampingnya. Lelaki itu tiba-tiba merangkul pundak Bambang dengan tangan kirinya. Bambang yang merasa kaget langsung menoleh ke arah laki-laki tersebut.
            “Kau? Masya Allah…. Imam?” kata Bambang dengan ekspresi wajah kaget sekaligus senang.
            “Kau Bambang kan?”
            “Iya ini aku, Mam. Oh bahagia sekali rasanya bertemu sahabat lama. Kemana saja kau? Kenapa sulit sekali aku menghubungimu?”
            “Iya, Bang. Aku juga sangat senang bertemu denganmu. Maafkan aku, Bang. Aku belum membeli HP lagi. HP-ku kemarin hilang dighasab orang.”
            “Oh, pantas saja. Aku kira kau sudah melupakanku.”
            “Ah, kau ini, Bang. Mana mungkin aku melupakanmu. Apa kabar kau ini? Aku sungguh tak menyangka. Tujuh tahun kau kuliah di Kairo, badanmu sekarang tinggi besar. Gagah sekali kau sekarang. Padahal dulu kau pendek dan kurus. Hahaha…”
            “Haha.. kau ini bisa saja, Mam. Disana setiap hari aku makan daging. Tidak seperti dulu aku disini, makan hanya berlauk tahu tempe, minum pun kadang hanya minum air keran jeding.”
            “Hahahaha…,” kedua sahabat itu tertawa.
            “Kau juga tambah tampan saja, Mam. Habis darimana kau dengan pakaian rapi seperti ini?” tanya Bambang.
            “Aku baru selesai mengajar, Bang,” jawab Imam.
            “Oalah pantas saja. Oh, iya ya Allah… Hasan! Bagaimana kabar Hasan sekarang? Tiga hari yang lalu aku menghubunginya lewat video call. Dia meminta oleh-oleh dariku. Aku sudah membawakan oleh-oleh khusus untuknya. Dan kau juga jangan khawatir, Mam. Aku juga punya oleh-oleh untukmu di tas ranselku ini,” kata Bambang sambil tersenyum dan menaikkan kedua alis matanya.
            Raut muka Imam berubah seketika. Bukannya menunjukkan rasa senang, tetapi menunjukkan rasa sedih. Imam diam termenung sejenak.
            “Mam? Kenapa? Hasan kemana, Mam?” tanya Bambang kepada Imam. Bambang menangkap sesuatu yang tidak beres dari raut wajah Imam. Perasaan Bambang mulai tidak enak.
            “Sehari setelah kau menghubunginya, dia pergi ke Pondok Tambakberas dengan sepeda motornya. Dia diundang menjadi pemateri dalam sebuah acara bedah buku di sana. Tetapi Tuhan berkehendak lain, Bang. Dia kecelakaan di perjalanan. Lalu… dia meninggal, Bang” jawab Imam. Pelan tetapi cukup jelas untuk membuat Bambang terdiam seribu bahasa. Lidahnya kaku. Jantungnya berdetak kencang. Badannya langsung lemas. Kepalanya tertunduk layu. Dia masih tak percaya.
            “Ka..kau yang benar saja, Mam. Kau berbohong kan? Ini semua tidak benar kan, Mam? Jawab, Mam!”
            “Tenanglah, Bang!” Imam memegang pundak Bambang. “Aku yakin Hasan mati syahid, Bang. Dia sempat dibawa ke rumah sakit. Aku dan beberapa pengurus sempat menjenguknya. Aku lihat kondisinya yang sangat menyedihkan. Waktu itu aku tak sanggup membendung air mata, tetapi Hasan sebaliknya. Dia tersenyum, Bang. Dia bahkan sempat menitipkan salam untukmu. Dia bilang bahwa kau jangan pernah menyesal karena kau tak sempat bertemu dengannya secara langsung lagi. Dia juga memintaku agar menunjukkan buku karangannya kepadamu. Kebetulan sekali buku itu sedang aku bawa,” Imam membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah buku dan memberikannya kepada Bambang. “Ambillah itu untukmu!” Bambang tak sanggup mengeluarkan kata-kata. Dadanya sesak seakan ditindih sebongkah batu besar. Dia lihat buku itu. Judulnya, “Sukses di Dunia dan Akhirat”. Di pojok kanan atas buku itu tertulis jelas nama sahabatnya, M. Hasanuddin.
            “Itu pengalaman yang takkan kulupakan seumur hidup, Bang,” Imam melanjutkan ceritanya. “Aku melihat Hasan pada saat terakhirnya. Dia mengucapkan dua kalimat syahadat dengan fasih, lalu akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Aku dan beberapa pengurus yang ada disana menangis, Bang. Hasan adalah orang yang hebat. Dia sudah membawa perubahan baik bagi pondok pesantren ini. Baru beberapa minggu kemarin dia terpilih menjadi pengurus terbaik. Aku dan semua pengurus pondok sangat merasa kehilangan. Dan aku tahu kau juga pasti begitu. Tetapi yakinlah, Bang. Hasan pasti bahagia disana. Dia pasti berkumpul bersama dengan orang-orang shaleh yang lainnya di alam sana.”
            Bambang hanya duduk terdiam. Kemudian dia mengangguk. “Ya, Zak. Kau benar.” Setelah itu keduanya saling terdiam. Pikiran Bambang melayang. Dia ingat bagaimana ekspresi Hasan ketika sudah lulus Aliyah dan dia gagal untuk melanjutkan pendidikan ke Al-Azhar, Mesir. Hasan tetap tersenyum. Hasan akhirnya menjadi pengurus di pondok ini. Tahun berikutnya giliran Bambang yang lulus. Hasanlah yang banyak berkorban dan membantu Bambang untuk dapat kuliah di Al-Azhar. Ternyata usahanya tidak sia-sia. Berkat bantuan Hasan, Bambang berhasil mendapatkan beasiswa kuliah penuh di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Sebelum keberangkatan Bambang ke Kairo, Hasan pernah bilang kepada Bambang, “Yah.. Tidak apa-apalah bila kau tak terlalu baik. Tetapi jadikanlah generasi setelahmu menjadi lebih baik darimu,” Bambang ingat betul kata-kata itu. Dia simpan kata-kata itu dengan baik di memori otaknya.
            “Mam...,” kata Bambang sambil menatap mata Imam. Bambang kini tersenyum walaupun kedua bola matanya berkaca-kaca.
            “Apa, Bang?” tanya Imam.
            “Ya, kau benar. Aku tidak pantas sedih. Dia pasti lebih bahagia di alam sana. Berkumpul bersama dengan orang-orang shaleh yang lainnya.”
            Imam tersenyum, “Kita tetap harus mendoakannya!”
            “Ya, tentu saja. Dan kita juga harus meneruskan perjuangannya!” kata Bambang sambil mengepalkan tangan kanannya. Imam tersenyum dan mengangguk.
            Adzan dhuhur terdengar dikumandangkan oleh seorang muadzin di Mesjid Ponpes Tebuireng. Mengajak setiap muslim agar sejenak meninggalkan urusan-urusan dunianya untuk memenuhi panggilan Sang Maha Kuasa. Bambang dan Imam terdiam. Pikiran mereka melayang. Dalam hati Bambang berkata, “Ah, lagi-lagi si Hasan lebih beruntung dariku. Dia pasti sudah bertemu Gus Dur di alam sana.”
Tebuireng, 11-04-2012
TAMAT

Rabu, 22 Februari 2012

Cerpen: DOA DOA CINTA

DOA-DOA CINTA
by : Asep M.S
 
            Dimanakah aku? Aku sungguh berada di tempat yang sangat indah. Tempat yang paling indah. Belum pernah aku menemukan tempat yang seindah ini. Aku berada di sebuah taman, atau…. Entahlah, yang jelas aku sangat senang berada disini. Rumput-rumput hijau yang terhampar luas dan tanaman-tanaman hijau yang menyegarkan mata. Bunga-bunga indah dengan berbagai macam warna dibuat menari-nari oleh semilir angin yang menyejukkan hati, seakan mereka sengaja menari-nari untuk menghibur hatiku yang gundah. Langit yang cerah juga pohon-pohon rimbun yang semakin membuat hatiku ini damai rasanya. Dan… oh sungguh aku tidak bisa menggambarkan lagi betapa indahnya tempat ini. Tapi dimanakah aku??
            Aku duduk sendiri di sebuah kursi kayu panjang berwarna putih. Pandanganku lurus ke depan melihat betapa indahnya pemandangan. Pikiranku kini melayang, sampai ada suara yang membuyarkan lamunanku.
“Nadya…”  ada yang memanggilku. Tapi siapa? aku menoleh ke sebelah kananku, dan alangkah  kagetnya aku karena di samping kananku sudah duduk seorang lelaki tinggi besar, berkulit putih dengan mengenakan pakaian yang serba putih pula. Dia memandangku. Wajahnya begitu putih dan bersih. Ohh diakah? ah tidak mungkin! pikirku.
“Ka.. Kakak?”  kataku dengan terbata-bata. Tidak salah lagi itu Kak Ihsan, Kakak kandungku yang paling kusayang. Tapi… bukankah Ia sudah meninnggal beberapa bulan yang lalu?
“Iya Nadya.. ini Kakak. Kamu gimana kabarnya Dek?”
“Kakak kemana aja? Aku kesepian gak ada Kakak. Aku sedih banget kakak pergi…” ku ucapkan kata-kata itu dengan mata berkaca-kaca, sambil memandangi wajah Kakakku yang putih bercahaya, hingga air mataku pun keluar, mengalir membasahi pipiku.
“Kamu gak boleh sedih dong Nad! Kakak gak apa-apa kok. Kakak bahagia malah sekarang. Jadi kamu gak usah sedih lagi mikirin kakak. Kan masih banyak orang-orang di sekitar kamu yang sayang sama kamu. Kamu harus tetap tersenyum, dan juga membuat orang-orang di sekitarmu tersenyum pula karenamu.”
“Tapi aku gak bisa Kak….”
“Pasti kamu bisa Nad. Kakak yakin itu. Kamu harus janji sama Kakak kalau kamu gak akan sedih lagi dan bikin orang-orang di sekitarmu bahagia?”
“Emmmh…. Ya deh kak aku janji.”
“Beneran ya?”
“Iya Kak..”
 “Ya sudah Kakak pergi dulu ya Nad. Kamu baik-baik yah ! Yang rajin belajarnya.”
“Lho Kakak mau pergi kemana lagi? Kakak jangan tinggalinku lagi dong Kak!”
“Gak apa-apa Nad. Kamu doain Kakak aja.” Kak Ihsan berjalan pergi meninggalkanku. Semakin lama semakin menjauh.Sementara aku, entah kenapa badanku ini tidak bisa ku gerakkan.
“Kakaak…!!!” Aku hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya. Tapi itu percuma, Kak Ihsan terus berjalan tanpa menengok ke belakang, seakan Ia tak mendengar teriakanku; Ataukah memang Ia tak bisa mendengar? Kak Ihsan terus pergi menjauh hingga mataku pun tak mampu lagi menangkap keberadaannya. Kak Ihsan menghilang.
*****
Aku terbangun dari tidurku. Meninggalkan alam mimpiku dan kembali lagi ke alam sadarku.  Aku duduk sejenak mengumpulkan ingatan-ingatanku dan mengusap peluh yang keluar dari pori-pori kulit wajahku. Terlintaslah di benakku sosok Kak Ihsan, kakak kandungku satu-satunya yang sangat ku sayang. Ia sangat akrab denganku. Tapi sayangnya, kini aku tak dapat lagi bertemu dengannya. Ia sudah pergi. Pergi untuk selamanya dengan cara yang menyedihkan. Dan itu semua terjadi di depan mata kepalaku sendiri.
3 bulan yang lalu.
Jam pelajaran selesai dan siswa-siswi di sekolahku pun diperkenankan pulang. Seperti biasa Aku menunggu Kakakku menjemputku di depan gerbang sekolah. Dari kejauhan aku telah melihat Kak Ihsan mengendarai motor bebeknya menuju ke arahku. Tapi tiba-tiba hal yang tidak diinginkan pun terjadi. Saat Kak Ihsan ingin menyalip mobil di depannya, mobil itu menyenggol sepeda motornya hingga ia pun oleng dan terjatuh. Tidak selesai sampai disitu, sebuah mobil truk yang melaju kencang dari arah yang berlawanan menabrak kakakku dan sepeda motornya hingga tubuhnya terseret beberapa meter. Aku lihat itu.. Aku lihat!
Aku berteriak kencang lalu berlari menuju ke arah orang-orang yang sudah berkerumun mengelilingi seorang lelaki muda yang tergeletak lemah dengan tubuh berlumuran darah. Itulah Kak Ihsan, Kakakku. Oh… Kakak.. dalam hati aku menjerit. Aku tidak dapat lagi melihat wajah Kakakku yang tampan. Wajahnya kini hancur dan tertutup oleh lumuran darah. Dan akhirnya… Sebelum ambulan datang menjemput kak Ihsan, arwahnya sudah terlebih dahulu dijemput oleh sang malaikat pencabut nyawa. Kak Ihsan pun pergi dan tak akan kembali tuk selamanya.
Kalian tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kalian sayang untuk selamanya? Sakit. Sangat sakit rasanya. Itulah yang kurasakan saat ini. Beberapa hari setelah kejadian itu aku hanya bisa menangis dan menangis. Terlalu lama aku menangis hingga aku pun sadar kalau menangis itu tak ada gunanya. Malah menyiksa diri sendiri dan tak pernah membuat semuanya kembali. Kak Ihsan juga pasti tidak senang jika melihat aku terus-terusan menangis seperti ini. Akhirnya yang bisa kulakukan hanyalah berdoa dan terus berdoa. Dan Aku yakin do’aku ini bisa mempermudah langkahnya menuju surga. Amin.
Setelah kepergian Kak Ihsan, Aku menjadi anak satu-satunya dari Ayah dan Ibuku. Aku sangat kesepian. Tidak ada yang bisa diajak bercanda di rumah ini seperti kakakku. Padanyalah aku sering mencurahkan isi hatiku dan meminta solusi atas semua masalah-masalahku. Ia juga sering membantuku mengerjakan tugas-tugas sekolah, mengantar dan menjemputku ke sekolah, juga melindungiku jika aku dalam bahaya. Sungguh aku kehilangan orang yang sangat berharga. Selamat jalan Kak Ihsan.
*****
 Lama kelamaan rasa kehilangan, kesedihan dan kesepian itu pun hilang, dan orang yang paling berjasa mengeluarkanku dari itu semua adalah Kak Rahman. Dia orang yang hebat. Dia sahabat terdekatku, kakak kelasku, bahkan sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri.
Kak Rahman orangnya luarbiasa. Dia sangat cerdas dan menjadi juara di kelasnya. Dia juga pintar dalam banyak hal. Hitung-menghitung, melukis, menulis artikel, pidato, semuanya ia kuasai. Hanya mungkin dalam bidang olahraga saja Ia lemah. Manusia tak ada yang sempurna memang. Tapi dimataku Kak rahman adalah orang yang sempurna. Dia sangat mirip dengan Kak Ihsan, kakak kandungku. Kak Rahman sering membantuku menghadapi berbagai macam masalah. Ia juga sering mengajariku pelajaran-pelajaran di sekolah, menghiburku ketika aku sedih, dan menemaniku saat aku kesepian. Beruntunglah aku bisa kenal dekat dengannya.
Banyak teman-teman perempuanku yang iri padaku. Mereka iri karena aku bisa dekat dengan sang bintang sekolah. Bahkan mereka mengira kami berdua pacaran. Padahal sebenarnya tidak. Aku tidak menyayangi Kak Rahman sebagai pacarku, tetapi sebagai sahabatku, bahkan kakakku sendiri. Jika berpacaran seringkali ada saatnya harus putus, maka persahabatan kami tidak akan putus. Susah senang, suka duka selalu kami lewati bersama. Itulah persahabatan sejati. Semoga.
Aku kini diliputi perasaan khawatir. Akhir-akhir ini Kak Rahman sering tidak masuk sekolah. Ia memang sering sakit. Dari pertama kenal dekat dengannya, aku sudah sering melihat wajahnya pucat dan sering pula kulihat Ia pulang sekolah lebih awal. Tapi ketika ku tanya sakit apakah dia, dia hanya menjawab dengan senyum manisnya dan berkata, “Gak apa-apa kok, cuma sakit biasa.”
Aku tahu sekali Kak Rahman bukanlah orang yang malas atau manja. Sesakit apapun dirinya, selama masih bisa berjalan, Ia akan tetap melangkahkan kakinya untuk berangkat ke sekolah. Tetapi kali ini berbeda. Kak Rahman sudah hampir dua minggu tidak masuk sekolah. Ia sakit dan di rawat di Rumah Sakit di luar kota. Rasa khawatir pun kini benar-benar merasuk memenuhi hati dan fikiranku. Sudah kucoba menghubungi Kak Rahman berkali-kali, tetapi tidak ada jawaban darinya. Oh Tuhan sakit apa dia sebenarnya? Kenapa Ia tidak mau cerita padaku? Beribu pertanyaan kini hadir memenuhi fikiranku. Aku tidak bisa tinggal diam!
Saat ini aku berada di Rumah Sakit tempat Kak Rahman dirawat. Tepatnya di depan sebuah ruangan  dimana Kak Rahman sedang terbaring lemah di dalamnya ditemani seorang dokter. Aku duduk berdua bersama Ibu Kak Rahman. Kulihat wajahnya jelas sekali menampakkan kesedihan. Dengan hati yang tidak menentu, ku tanyakan kepada Ibunya sakit apa Kak Rahman sebenarnya. Ibunya menjawab, “Rahman sudah lama menderita penyakit jantung, Nak.” Seketika aku langung terperanjat kaget. Jawaban itu seperti petir yang menyambar dadaku, hingga hatiku  pun hancur berantakan dibuatnya. Aku terdiam tidak bisa bicara apa-apa lagi, dadaku sesak seakan ditindih sebongkah batu besar. Akhirnya Ibu Kak Rahman lah yang lanjut bercerita.
“Sudah hampir tiga tahun Rahman menderita penyakit itu. Tapi waktu itu Ibu belum punya cukup biaya untuk operasi. Tapi sekarang tak ada pilihan lain, Nak. Tabungan Ibu mungkin sudah cukup untuk membiayai operasi Rahman. Jika tidak, dokter bilang umur Rahman… tidak akan lama lagi....” Ibu Kak Rahman bercerita sambil menangis. Aku pun juga sudah tak kuat membendung air mataku.
“Ibu.. asal Ibu yakin dan terus berdoa, Kak Rahman pasti sembuh Bu. Yang menentukan hidup mati seseorang itu Allah Bu, bukanlah dokter..”
“Iya, Nak.. Terima kasih sudah mengingatkan Ibu.” Ibu Kak Rahman menghapus air matanya.
Akhirnya seorang dokter keluar dari kamar pasien dan mempersilahkan  aku dan Ibu Kak Rahman masuk. Dokter juga bilang kalau Kak Rahman sudah bisa diajak berkomunikasi lagi. Kami berdua pun masuk dan langsung disambut oleh Kak Rahman dengan senyum manisnya. Wajahnya sangat pucat dan badannya pun kulihat semakin kurus dan lemah. Tapi dalam keadaan seperti itu Ia masih bisa tersenyum. Bahkan Ia juga yang meyakinkanku kalau Ia pasti sembuh. Oh Kak Rahman, kau orang yang luar biasa.
*****
Sungguh sebuah kenyataan yang menyedihkan. Kenapa ini harus terjadi kepadaku? Disaat aku sudah menyayangi Kak Rahman seperti kakakku sendiri, aku harus menerima kenyataan kalu ternyata Kak Rahman punya penyakit jantung yang membahayakan jiwanya, dan hidup matinya akan dipertaruhkan tiga hari lagi, yakni hari dimana Ia akan dioperasi. Apakah aku harus kehilangan orang yang spesial untuk kedua kalinya? Tidak! Aku tidak mau lagi. Aku tidak boleh berpikiran negatif. Aku harus berbuat sesuatu untuk Kak Rahman. Ia pasti sembuh!!
Tiap waktu, tiap menit, tiap detik aku selalu berdoa untuk Kak Rahman.  Setiap selesai shalat fardhu, aku tidak pernah lupa berdoa untuk kesembuhan Kak Rahman. Bahkan aku rela untuk bangun malam melaksanakan shalat tahajjud dan mengirim doa untuk Kak Rahman. Teman-temanku semuanya aku beritahu dan ku ajak mereka untuk mengirim doa al-Fatihah untuk Kak Rahman. Aku usulkan kepada pengurus OSIS juga untuk mengadakan doa bersama dan mengadakan penggalangan dana sosial. Guru-guru pun ikut pula membantu untuk Kak Rahman. Semuanya berdoa untuk kesembuhan Kak Rahman. Semua menyayanginya dan tidak ingin kehilangan dia.
Segala upaya telah dilakukan sekuat tenaga. Segala doa telah dipanjatkan. Hingga sekaranglah detik-detik penentuan. Disaat segala usaha lahir batin sudah terlaksana, barulah kini saatnya untuk bertawakkal kepada-Nya. Sekarang ini aku pasrahkan segala keputusan pada-Nya. Hari ini Kak Rahman akan dioperasi. Hari ini pula aku tidak masuk sekolah karena tidak enak badan. Aku hanya menghabiskan waktu di kamar. Di fikiranku kini hanya ada satu nama, Kak Rahman. Perlahan air mataku ini keluar, hingga semakin lama semakin deras. Aku menangis. Kenapa ini harus terjadi? Kenapa harus dia? Ohh Tuhan.. sembuhkanlah Kak Rahman.
Aku bangun dari tidurku karena mendengar handphoneku berdering. Ada yang menelponku. Aku pun langsung mengangkat telpon tersebut yang ternyata dari Ibunya Kak Rahman. Ia bilang kalau ternyata operasinya berhasil dengan ajaib. Sekarang kak Rahman sudah mulai sadar dan hal pertama yang ditanyakannya adalah aku. Ohh Tuhan terima kasih.. Berkali-kali syukur ku ucapkan. Sekarang aku menjadi orang yang paling bahagia sedunia. Rasa sakitku pun hilang seketika. Ternyata Allah  mengabulkan doa-doaku selama ini.
Aku seketika langsung bangkit dan bersiap-siap untuk pergi ke Rumah Sakit tempat Kak Rahman dirawat. Seorang diri aku naik angkutan umum. Dan beberapa lama kemudian aku pun sampai di seberang Rumah Sakit. Oh.. Aku tidak sabar lagi ingin mengetahui keadaan Kak Rahman. Tanpa lmelihat kanan kiri aku langsung berjalan cepat menyebrang jalan. Tanpa kusadari sebuah mobil kijang hitam dari arah kiri sedang melaju kencang menuju ke arahku. Dan… Bruukk..
Aku berada di tempat ini lagi? Dihadapanku kini berdiri seorang lelaki tampan dan gagah dengan pakaian serba putihnya. Dia tidak lain adalah kakaku, Kak Ihsan.
“Ka..kakak?” kupandangi wajah Kak Ihsan yang putih bercahaya. Ia tersenyum.
“Ayo Nadya.. Sekarang ikut Kakak..!”
Tamat.
Di sebuah tempat yang indah
14 Februari 2012
 

Sabtu, 24 September 2011

Sebuah Perjalanan

“Kriiingg…..” Bunyi bel terdengar ke seluruh penjuru Sekolah Dasar Negri Lebakjaya II pertanda jam istirahat sudah dimulai. Para siswa bersorak gembira, menyambutnya dengan sukacita. Ada yang berlarian menuju kantin sekolah. Ada yang bermain sepakbola di lapangan. Ada yang bermain kucing-kucingan petak umpet dan permainan-permainan anak yang lainnya.
Di saat teman-teman sekelasnya bermain gembira, Ahmad hanya duduk terdiam di tempat duduknya. Dia sendirian di ruang kelas V A. Tak henti-hentinya dia memandangai dan membolak-balik kertas hasil ulangan matematikanya yang tadi dibagikan oleh Bu Tika. Sedih hatinya karena dia mendapatkan nilai yang jelek, bahkan yang paling jelek di kelasnya.
 ****
Pagi itu sekitar pukul 09.30. Di kelas V A sedang berlangsung pelajaran matematika yang diajar oleh Bu Tika.
“Ahmad, kamu itu gimana? Teman-teman yang lain mendapat nilai diatas lima puluh semua. Tapi kamu sendiri kok Cuma dapat nilai dua puluh? Kenapa? Gak belajar, ya?” Omel Bu Tika kepada Ahmad.
“Iya, Bu. Malamnya saya ketiduran, Bu. Jadinya gak sempat belajar.”
“Ibu kan sudah memberi tahu kalau kemarin itu ulangan dari dua minggu yang lalu.”
“Iya, Bu. Maaf. Tapi walaupun nilai saya jelek, itu adalah murni hasil kerja saya sendiri, Bu. Saya gak mau nyontek kayak temen-temen yang lain.”
“Emangnya temen-temen yang lain nyontek?”
Mendengar Ahmad berbicara seperti itu, Ubed, premannya kelas V A angkat bicara, “Ahmad bohong, Bu. Kami semua ngerjain soal sendiri kok. Gak ada yang nyontek. Iya kan temen-temen?”
“Iya Bu. Ubed benar. Heh Mad, jangan asal nuduh gitu dong!” Abdul, teman sebangku Ubed ikut bicara.
“ Heh…! Sudah-sudah. Gak usah ribut. Ahmad, lain kali kamu harus lebih giat lagi belajar, ya!”
Ahmad hanya mengangguk lemas. Terasa sesak dadanya setelah mendengar ucapan-ucapan dari guru dan teman-temannya. Padahal Ahmad benar. Dia tidak mau bekerja sama mengerjakan soal walaupun teman-teman yang lain melakukan hal itu. Bahkan ketika Rahman, teman sebangkunya menawarinya jawaban, dia menolaknya. Dia lebih memilih mengerjakan soal sendiri walaupun sebenarnya dia tidak terlalu bisa karena dia tidak belajar sebelumnya.
Ahmad selalu ingat nasehat almarhumah Ibunya yang menyuruhnya untuk berusaha menjadi orang yang jujur dan bisa membanggakan orang tua. Dia juga anak yang selalu menuruti apapun yang diperintah oleh ayah tercintanya. Bahkan di umur sekecil itu, Ahmad sering membantu Ayahnya bekerja di sawah.
 
 ****
Ahmad masih terdiam di trempat duduknya. Dia masih sendirian sampai Ubed, Abdul dan Juned masuk ke kelas dan mendekatinya.
“Eh, Mad. Kamu ngapain tadi bilang ke Bu Tika kalau kami semua nyontek, hah? Berani ya sama aku?” Ubed membentak Ahmad.
“Iya! Kamu jadi orang jangan sok, Mad! Diajak kerjasama gak mau. Lihat kan hasilnya?” Abdul semakin memojokkan Ahmad.
“Aku mau jadi orang jujur, Dul. Lebih baik aku mendapat nilai 20 daripada kamu yang dapat nilai 90 dari hasil nyontek.”
“Alaah… Banyak omong, kamu!” Kata Juned sambil menempeleng kepala Ahmad.
Ahmad tidak bisa lagi menahan emosinya. Dia berdiri dan mendorong Juned hingga jatuh.
“Heh! Berani kamu ya sama temenku!” Ubed balas mendorong dan memukul wajah Ahmad. Ahmad membalas lagi dengan satu pukulan. Sementera Juned dan Abdul pun ikut bergabung mengeroyok Ahmad. Perkelahian pun terjadi. Satu lawan tiga, jelas Ahmad yang kalah. Untungnya ada teman sekelasnya yang segera setelah melihat kejadian itu melapor kepada guru. Ubed, Juned dan Abdul pun dihukum untuk kesekian kalinya. Ya… mereka bertiga memang sering membuat onar.
 
 ****
“Kriiing….” Bel di SDN Lebakjaya kembali berbunyi. Kali ini adalah pertanda jam pelajaran di sekolah hari ini sudah selesai alias para siswa dan siswi sudah boleh pulang ke rumah. Semua siswa-siswi bergembira. Kecuali satu orang yaitu Ahmad.
“Bagaimana reaksi ayahku kalau tahu nilai ulangan matematikaku hanya dapat nilai 20? Bagaimana reaksi ayahku setelah tahu kalau anaknya berkelahi?” Batin Ahmad.
Ahmad takut kalau Ayahnya marah kepadanya. Tapi, dia tidak ingin berbohong. Dia harus ceritakan yang sebenar-benarnya. Ahmad berjalan menuju rumahnya sendirian. Dengan luka memar di wajahnya akibat dikeroyok Ubed dan kawan-kawan.
Sesampainya di rumah.
“Assalamu’alaikuum.”
“Wa’alaikum salam. Ahmad, kenapa wajahmu itu nak?”
“Tadi…. Ahmad berkelahi, Yah.”
“Berkelahi?”
“Ceritanya tadi pagi aku……..” Ahmad menceritakan semua yang dialaminya di sekolah tadi kepada ayahnnya. Ayahnya hanya tersenyum mendengar anak satu-satunya itu bercerita sambil meneteskan air mata.
“Ayah…? Kenapa Ayah tersenyum? Aku heran Ayah, selama ini aku berusaha dengan susah payah belajar dengan baik untuk mendapat nilai bagus, tetapi temanku yang tidak belajar itu bisa mendapatkan nilai yang bagus hanya dengan mencontek.
Aku bekerja membantu Ayah untuk mendapatkan uang, tetapi temanku itu bisa mendapatkan uang bannyak dari hasil memalaki teman-teman yang lain.
Aku berusaha mengingatkan temanku yang salah, tetapi aku malah diejek dan dicaci maki.
Aku berusaha menjadi orang yang jujur seperti kata Ibu, tetapi teman-temanku tadi malah menjauhiku.
Kenapa, Yah? Kenapa…?”
Ayahnya terdiam memandangi kedua mata Ahmad yang berkaca-kaca dan mengeluarkan air mata. Ahmad mengingatkannya pada seseorang yang dulu sangat dicintainya, tetapi kini dia sudah tiada yaitu istrinya.
“Mad, besok akan ayah beritahu jawabannya.” Kata ayahnya.
 
 ****
Besoknya. Minggu pagi. Ahmad diajak oleh ayahnya pergi ke suatu tempat oleh. Dengan membawa perbekalan secukupnya, pagi itu Ahmad dan ayahnya berangkat dengan berjalan kaki.
“Mau kemana kita ini, Yah?”
“Ayah akan membawamu ke suatu tempat yang bagus, Nak. Kamu tidak usah bertanya. Nanti kamu akan lihat sendiri.”
“Oh… Iya.”
Walaupun masih bingung, Ahmad tidak berani bertanya lagi. Dia hanya mengikuti kemana ayahnya berjalan. Menyusuri jalan setapak. Melewati sawah-sawah yang terhampar luas. Lalu melewati jalanan menanjak. Memasuki hutan yang selama ini jarang dimasuki orang.
Setengah jam sudah Ahmad dan Ayahnya berjalan menyusuri hutan. Selama itu mereka banyak menghadapi hambatan dan rintangan. Mulai dari serangga-serangga penggigit yang ganas. Jalanan yang becek dan berlumpur. Adakalanya harus mereka harus memanjat, melompat, menyebrang sungai dan banyak rintangan-rintangan yang lainnya.
Setelah sekian lama berjalan, akhirnya Ahmad dan ayahnya sampai pada suatu tempat yang indah. Tempat itu berada di atas gunung, tetapi bukan di puncaknya. Dari sana cukup jelas terlihat pemandangan Kota Garut yang terkenal indah. Di tempat itu pula terdapat danau kecil yang airnya masih sangat jernih. Di danau  itu Ahmad dan ayahnya memebersihkan kaki dan tangannya. Lalu meraka menggelar tikar dan mengeluarkan perbekalan makanan. Mereka berdua pun makan dengan lahapnya.
Hanya sedikit orang yang mengunjungi  tempat itu selain Ahmad dan ayahnya. Diantara mereka ada beberapa anak seumuran anak SMA yang sedang berkumpul. Mungkin mereka anak-anak pecinta alam. Ada juga beberapa pasangan lelaki dan perempuan yang sedang asik duduk mengobrol sampbil berpegangan tangan. Ada yang asik berfoto-foto, dan sebagainya.
Setelah makan, Ayahnya memulai pembicaraan.
“Mad, kamu senang Ayah ajak ke tempat ini?”
“Iya, Yah. Aku senang ketika sudah sampai di tempat ini. Tempat ini bagus sekali. Tetapi aku tidak suka dengan jalan yang kita lewati tadi. Banyak sekali hambatannya. Apa gak ada jalan lain, Yah?”
“Sebenarnya ada jalan yang sama sekali tidak ada hambatannya. Itu jalan yang umum dilewati orang yang mau kesini. Tetapi ayah sengaja menembawamu ke jalan yang tadi.”
“Kenapa, Yah?”
“Ayah ingin menunjukkan sesuatu kepadamu. Ayah ingin kamu tahu kalau perjalanan kita tadi sama seperti perjalanan hidup kita.”
“Maksudnya?”
“Untuk ke tempat ini, kita harus melewati berbagai rintangan dan hambatan. Begitu juga hidup kita. Untuk menjadi orang yang sukses dan berhasil, kita memang terlebih dahulu diberi banyak rintangan, hambatan dan cobaan oleh Allah.
Kemarin kamu bilang kalau kamu diejek dan dijauhi temanmu karena sikapmu. Itulah cobaan, nak. Kamu harus tetap kuat dan sabar. Kamu harus berusaha untuk tidak terpengaruh oleh temanmu yang jelek. Kamu juga harus berusaha belajar dengan sungguh-sungguh. Dengan begitu apa yang kamu cita-citakan pasti akan tercapai.”
“Ohh.. begitu ya, Pak?”
“Iya. Kamu mau berjanji pada ayah kalau kamu nanti akan membanggakan Ayah dan Ibu?”
“Iya Ayah. Aku berjanji aku akan berusaha menjadi orang yang jujur, kuat dan sabar supaya nanti aku bisa jadi orang sukses dan bisa membanggakan Ayah dan Ibu.”
“Bagus. Ibumu pasti bangga melihat kamu seperti ini, Mad.”
“Benarkah Ayah? Walaupun nilai ulanganku 20?”
“Iya. Tentu saja. Karena kamu mengerjakannya dengan jujur dan tidak mencontek.Tetapi lain kali kamu harus belajar dengan lebih giat!”
“Iya Ayah.”
Ahmad tersenyum. Begitu juga Ayahnya. Sementara hari sudah semakin siang dan panas, Ahmad dan ayahnya pun kembali pulang ke rumah. Kali ini lewat jalan yang berbeda.
Hari ini Ahmad mendapatkan pelajaran berharga dari Ayah tercintanya. Sekarang dia tahu bahwa perjalanan menuju kesuksesan itu penuh hambatan dan rintangan yang harus dihadapi dengan usaha sungguh-sungguh dan bersabar.

Puisi Santri

Badai yang terus menerus menimpaku
takkan mampu tuk hentikan langkahku
Suara petir yang menggelegar
takkan mampu tuk membuatku gentar

Tekadku sudah bulat, Ibu
Ku kan pergi tuk menuntut ilmu
pergi ke negri yang jauh disana
dan kembali tuk menjadi secercah cahaya

Gelapnya hidup tanpa ilmu
membuatku ingin bertemu seorang guru
yang menyinari hatiku  ini dengan cahaya
supaya ku tahu  kemana ku harus melangkah

Do'akan aku, Ibu
Izinkan aku, Ibu
Hanya dengan do'amu aku bisa
Hanya dengan ridhomu lah ku kan mendapat ridho-Nya

Ibu, Maafkan aku
karena aku telah banyak menyakitimu
karena aku telah banyak berbuat salah
sehingga membuat hatimu terluka

Aku berangkat Ibu
Disana ku pasti sangat merindukanmu
Do'akan saja aku supaya ilmu ku nanti bermanfaat
Do'akan saja supaya aku bisa berguna di masyarakat
Do'akan aku supaya selamat
di dunia maupun di akhirat.

Memahami Kegagalan

Man Jadda Wajada: Barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti dapat. Sudah sangat sering kita mendengar pepatah yang satu ini. Tapi, sudahkah kita mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari?
            Banyak contoh yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang tidak menerapkan prinsip ini. Mereka cepat menyerah, berhenti berusaha, dan menyerah pada nasib hanya karena mengalami kegagalan. Padahal tak ada satupun tokoh sukses di seluruh dunia yang tak pernah mengalami kegagalan.  Mereka pasti meraih kesuksesan itu dengan kerja keras, pantang menyerah dan tidak mudah putus asa walaupun telah mengalami kegagalan berkali-kali.
Mari kita ambil contoh dari salah satu tokoh besar yang dapat kita ambil pelajaran darinya yaitu Thomas Alva Edison. Thomas Alva Edison, ilmuan besar penemu lampu pijar,  pada mulanya dia dianggap bodoh oleh gurunya sehingga dikeluarkan dari sekolahnya. Tapi Edison tidak patah semangat. Dia terus-menerus berusaha hingga akhirnya dia menjadi seorang penemu besar.
Penemuan terbesar Thomas Alva Edison adalah lampu pijar. Pada saat menemukan Lampu Pijar ini Thomas Alfa Edison mengalami kegagalan sebanyak 9.998 kali. Baru pada percobaannya yang ke 9.999 dia berhasil secara sukses menciptakan lampu pijar yang benar-benar menyala terang. Pada saat keberhasilan dicapainya, dia sempat ditanya: Apa kunci kesuksesannya. Thomas Alfa Edison menjawab: “Saya sukses, karena saya telah kehabisan apa yang disebut kegagalan”. Bayangkan dia telah ribuan kali mengalami kegagalan. Bahkan saat dia ditanya apakah dia tidak bosan dengan kegagalannya, Thomas Alfa Edison menjawab: “Dengan kegagalan tersebut, saya malah mengetahui ribuan cara agar lampu tidak menyala”. Luar biasa, Thomas Alfa Edison memandang kegagalan dari kaca mata yang sangat positif. Kegagalan bukan sebagai kekalahan tapi dipandang dari sisi yang lain dan bermanfaat, yaitu mengetahui cara agar lampu tidak menyala.
Tokoh  Ilmuan besar lain yang dapat kita ambil pelajaran darinya yaitu Albert Einstein. Sampai usianya empat tahun, Einstein tak bisa bicara. Hingga usia 7 tahun ia tak bisa membaca. Gurunya menggambarkan Einstein kecil sebagai anak yang memiliki mental rendah, antisosial, dan terobesi dengan mimpi-mimpi konyolnya.
Ketika dewasa, Einstein ditolak masuk Zurich Polytechnic School. Bahkan ketika ia masuk The University of Ber, disertasi Ph.D-nya tak diterima karena dianggap tak relevan. Namun dari mimpi-mimpi yang oleh kebanyakan orang tak masuk akal itulah Einstein terus berusaha hingga akhirnya ia menciptakan sejumlah penemuan yang menjadi dasar ilmu pengetahuan.
Selain dari para ilmuwan, kita juga dapat belajar dari kisah hidup seorang legenda hidup NBA yang dikenal dengan akurasi lemparan dan gaya slam dunk-nya yang seolah berjalan di udara yaitu Michael Jordan. Sebelum mencapai kepiawaiannya itu, Michael Jordan pernah mengalami kegagalan demi kegagalan. Namun ia tak pernah menyerah untuk mencoba memperbaiki dan memperbaikinya lagi. Bahkan dalam pertandingan resmi pun, ribuan kali lemparannya tak menghasilkan angka.
"Selama karir saya, lebih dari 9000 kali lemparan saya tak membuahkan angka. Saya kalah dalam 300 pertandingan dan 26 kali saya dipercaya melakukan winning shot, tetapi gagal. Saya sering mengalami kegagalan dan gagal lagi dan gagal lagi dalam hidup saya. Tapi itulah yang membuat saya sukses...."
 Dari kisah-kisah di atas kita dapat belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Justru kegagalan itu adalah sebuah batu loncatan untuk kita menuju kesuksesan. Oleh karena itu sebagai generasi muda, kita jangan mudah putus asa karena mengalami kegagalan satu atau dua kali. Kita harus terus mencoba dan berusaha. Dengan begitu, apapun yang kita cita-citakan inya allah  akan tercapai.